Showing posts with label arti kontribusi. Show all posts
Showing posts with label arti kontribusi. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

Catatan Diskusi Terbuka

Tepat malam ini lagi-lagi diskusi terbuka dilaksanakan. Awalnya di jarkom waktu DT jam 20.00. Tapi sengaja saya datang jam 19.10 karna ingin melihat persiapan temen-temen elemen pengader. Dan akhirnya acara dibuka jam 08.07 wib, terlambat 7 menit dari waktu yang seharusnya. Ini forum yang terbagus yang saya tau. Karena hanya terlambat 7 menit dari waktu yang seharusnya. Saya pribadi punya catatan tersendiri tentang forum seperti ini. Dulu  namanya OT(open talk), dan forumnya ya mayoritas bahas kaderisasi. Bukan mayoritas lagi, tetapi semua forum seperti ini pasti membahas kaderisasi. Padahal kaderisasi hanya menyumbang tak lebih dari 10% dari kesuksesan kepengurusan. Ya memang nilai kepengurusan itu bukan segalanya. tetapi suatu hal yang konyol ketika setengah kepengurusan dihabiskan dengan memikirkan mlonco maba(yang berfikir seperti ini masih ada ternyata). Tetapi bayangkan, forum untuk hal semacam big even seperti olimpiade dan lain sebagainya. 
Oke kita lanjut berjalannya forum seperti apa. Seperti biasa, mereka yang disebut warga itu pasti menanyakan kelengkapan elemen pengader dan pengurus inti. Suatu hal yang lucu, dimana mereka dahulu juga tak pernah bisa memenuhi hal tersebut. Selain itu juga waktu dimulainya forum juga dipertanyakanl. Karena terlambat 7 menit dari waktu yang telah ditentukan. Dan kalian tahu siapa yang menanyakan? yang menanyakan adalah mereka yang tidak ada di tempat saat pukul 20.00. Saya dan teman saya cuma bisa tertawa, diselimutu sedikit amarah yang tak tertuangkan. Bayangkan, teman kita sendiri dipermasalahkan karena kesalahan mereka sendiri. Pasti ditanyakan mengapa saya tidak langsung menegur orang tersebut. Jawabnya simple, senior selalu benar. Oh, iya. Saya belum memberikan definisi dari warga. Warga adalah mahasiswa tahun ke 4 dan diatasnya, dengan kata lain dia senior kami.
Kalimat senior selalu benar ternyata tidak hanya berlaku di maba, tetapi juga di kalangan kami. Mengapa saya mengatakan demikian, karena seluruh yang mereka permasalahkan itu dahulunya juga mereka lakukan. Bahkan lebih parah dari kondisi ini. Data mengatakan forum semacam ini pada masa mereka tidak pernah terlambat kurang dari 10 menit. Selain itu, seperti masalah kelengkapan, dahulu pun lebih parah. Bahkan yang datang hanya itu-itu saja.
Sempoat keluar perkataan "kalian aja ga disiplin, gimana mau ngader adiknya". Oke, itu yang dibicarakan. Data terbaru menyatakan yang menuntuk kami disiplin pun tidak disiplin. Lantas, siapa yang tidak pantas? Dulu saya pernah dikasih tau kalau mau mengkritik itu ya 'macak' dulu. Ya seharusnya yang menuntut itu bisa memberikan contoh yang baik pula. Dengan cara apa? Ya silahkan minimal datang tepat waktu, atau bisa lagi datang dengan teman-teman yang tidak itu-itu saja. Dan tambahan supaya cepat-cepat meninggalkan selogan senior pasti benar.
Maaf, ini hanya catatan saya pribadi. Dan diperuntukan untuk menjadi pelajaran bersama. Bukan untuk mengumbar aib.

Monday, September 2, 2013

TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI(TDPT)




Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem pendidikan nasional. Keberadaannya dalam kehidupan bangsa dan negara berperan penting melalui penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 20 Ayat 2).
Saat ini kesadaran mahasiswa akan tanggung jawabnya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi semakin menurun. Tri dharma perguruan tinggi sebagai salah satu pondasi dan dasar tanggung jawab yang dipanggul mahasiswa (sebagai bagian dari perguruan tinggi) harus dikembangkan secara simultan dan bersama-sama. Dengan kondisi Indonesia yang mulai memprihatinkan, sebagai mahasiswa baru perlu mengetahui dan menyadari salah satu pedoman untuk  melaksanakan tanggung jawabnya dalam rangka menjawab tantangan negara dan bangsa Indonesia di masa depan.
Tri Dharma perguruan tinggi merupakan tiga pilar dasar pola pikir dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual di negara ini. Karena mahasiswa adalah ujung tombak perubahan bangsa kita ke arah yang lebih baik. Pernyataan ini menjadi terbukti ketika kita melihat sejarah bangsa ini dimana sebagian perubahan besar yang ada di negara ini dimulai oleh mahasiswa, dalam hal ini pemuda-pemudi Indonesia. Adapun Tri Dharma Perguruan tinggi itu sendiri meliputi :
1.      Pendidikan.
Mahasiswa sebagai kaum  intelektual bangsa yang menduduki  5% dari populasi warga negara Indonesia berkewajiban meningkatkan mutu diri secara khusus agar mutu bangsa pun meningkat pada umumnya dengan ilmu yang dipelajari selama pendidikan di kampus sesuai bidang keilmuan tertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu  kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga ketika mahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari pertimbangan rasional, bukan dengan adu otot. Itulah yang disebut kedewasaan mahasiswa.
2.       Penelitian dan Pengembangan
Ilmu yang dikuasai melalui proses pendidikan di perguruan tinggi harus diimplementasikan dan diterapkan. Salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswa bukan hanya akan mengembangkan diri mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan pperadaban dan  kepentingan  bangsa kita dalam menyejahterakan bangsa. Selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis. Mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal softskill dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah yang ada. Mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada dan mengkajinya secara keilmuan.
3.       Pengabdian pada Masyarakat
Mahasiswa menempati lapisan kedua dalam relasi kemasyarakatan, yaitu berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Mahasiswa adalah yang paling dekat dengan rakyat dan memahami secara jelas kondisi masyarakat tersebut. Kewajiban sebagai mahasiswa menjadi front linedalam masyarakat dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyat karena sebagaian besar keputusan pemerintah di masa ini sudah terkontaminasi oleh berbagai kepentingan politik tertentu dan kita sebagai mahasiswa yang memiliki mata yang masih bening tanpa ternodai kepentingan-kepentingan serupa mampu melihat secara jernih, melihat yang terdalam dari yang terdalam terhadap intrik politik yang tidak jarang mengeksploitasi kepentingan rakyat. Disini mahasiswa berperan untuk membela kepentingan masyarakat, tentu tidak dengan jalan kekerasan dan aksi chaotic, namun menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, kaji terlebih dahulu, pahami, dan sosialisasikan pada rakyat, mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata rakyat sebagai salah satu bentuk pengabdia terhadap rakyat.


Keterkaitan ketiga poin TDPT

Ketiga faktor diatas ini sangat erat hubungannya, karena penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.        

Strategi Implementasi di Perguruan Tinggi

Eksistensi perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam memengaruhi perubahan-perubahan suatu masyarakat.Peran dan fungsi perguruan tinggi sebagai implementasi dari tri darma yang menjadi kewajibannya, dapat diwujudkan dalam bentuk membangun gerakan pembelajaran masyarakat untuk mendorong terciptanya transformasi sosial dan terjaganya nilai-nilai budaya bangsa.
 Perguruan tinggi juga dapat mengembangkan model pembangunan yang benar-benar berbasis pada keilmuan dan sumberdaya lokal dalam kerangka sistem nilai budaya bangsa, membangun basis-basis pengembangan keilmuan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka merespon perubahan global yang sangat dinamis, mengembangkan pusat-pusat pengembangan masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya dan nilai-nilai lokal yang ada, membantu pengembangan kebijakan strategis terhadap legislatif dan eksekutif serta mengontrol implementasi kebijakan-kebijakan tersebut.
 Perguruan tinggi juga dapat berperan dalam mengembangkan strategi kebudayaan, hal tersebut sangat diperlukan dalam membangun peradaban bangsa, terutama untuk membangun nilai-nilai yang sejalan dengan kemajemukan bangsa agar keberagaman diterima sebagai sebuah kekayaan dan tidak dipertentangkan. Oleh karena itu, pembangunan peradaban itu sendiri perlu berbasis pada nilai etika dan nilai budaya yang sudah melekat dalam jari diri bangsa

Sunday, September 1, 2013

KARAKTER MAHASISWA ITS




ITS CAK

     Tampilan logo resmi Arek ITS CAK terlihat cukup sederhana.Sebagai komponen utama terdapat tulisan Arek ITS CAK berwarna biru.Dimana kata CAK tertulis dengan huruf bersambung diakhiri tanda seru.Ditambah sebuah garis melengkung di bawahnya berwarna merah dan kata Cerdas, Amanah, Kreatif di bawahnya.Warna merah dan biru untuk menunjukkan semangat dari Arek-arek ITS.Selanjutnya garis bawah pada kata CAK ditambahkan untuk menekankan kata tersebut.Ini ditujukan untuk menekankan bahwa arek ITS memang benar-benar Cerdas, Amanah dan Kreatif. (sumber : website ITS pencipta logo ITS)
Bagi kita, masyarakat kota Surabaya, kata “CAK” sudah tidak asing lagi di telinga. Kata “Cak” sendiri merupakan trademark bagi penduduk kota Surabaya dan tidak digunakan di kota-kota lain. “Cak” biasanya merupakan kata ganti pertama untuk para pria.Karena kata “cak” begitu populer di Surabaya, pihak ITS sampai memakai kata ini sebagai jargon kampus mereka. Sebelum pertengahan tahun 2008, jargon ITS adalah “CUK” yang berarti Cerdas, Ulet, Kreatif. Kemudian kata “CUK” ini diganti dengan kata “CAK” dengan alasan makna konotosi yang terkandung di dalam kata “CUK” tersebut. Akhirnya sampai sekarang  kampus ITS memakai kata “CAK” sebagai jargon mereka. CAK sendiri berarti Cerdas, Amanah, Kreatif.
     Mari kita telaah satu persatu ketiga karakter yang termaktub dalam karakter CAK.Yang pertama adalah Cerdas.Untuk karakter ini, bahwa mahasiswa ITS sebenarnya sudah termasuk dalam golongan cerdas.Mahasiswa kita tidak kalah dengan ITB, UI, UGM maupun PTN-PTN papan atas lainnya di Indonesia dalam hal kecerdasan.Bahkan kecerdasan mahasiswa kita pun bisa bersaing di pentas internasional.Tidak ada mahasiswa “bodoh” di kampus ini.Saya sangat yakin itu.Hanya saja, poin cerdas yang dijelaskan tadi adalah mengenai kecerdasan akademis (Matematis dan Verbal). Dua jenis kecerdasan inilah yang paling dominan dan paling dasar yang dimiliki oleh mahasiswa ITS. Padahal sebenarnya ada banyak sekali jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki oleh mahasiswa ITS. Seorang mahasiswa ITS yang cerdas adalah mahasiswa yang mampu mengoptimalkan seluruh jenis kecerdasan yang dimilikinya sesuai minat dan bakatnya untuk mencapai hasil terbaik selama berada di kampus.
     Kemudian karakter kedua dari CAK adalah Amanah. Karakter ini sebenarnya memiliki arti yang hampir sama dengan Tanggung Jawab. Selama ini, Amanah adalah jenis karakter yang masih ‘miskin’ implementasi di kalangan mahasiswa ITS. Mengapa? Contoh gampangnya adalah perilaku mahasiswa selama berkuliah.Banyak kasus mahasiswa ITS yang masih sering membolos dan TA (Titip Absen).Secara tidak langsung, kita melanggar amanah dari orang tua kita. Perilaku seperti ini merupakan contoh kecil miskinnya implementasi amanah di lingkungan mahasiswa ITS. Maka, karakter ini seharusnya sudah dibentuk sejak mahasiswa baru.
     Lalu karakter terakhir CAK adalah Kreatif. Harus diakui bahwa selain cerdas, mahasiswa ITS itu sangat kreatif. Implementasi karakter ini bisa kita lihat dimana-mana.Contoh paling gampang adalah PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Dari tahun ke tahun, jumlah PKM yang dibuat dan PKM yang didanai untuk mahasiswa ITS terus meningkat.Ribuan judul PKM yang dibuat sangatlah bervariasi dan benar-benar orisinil.Fakta ini adalah bukti tegas bahwa mahasiswa ITS adalah mahasiswa yang sangat kreatif.
          Banyak nilai yang terkandung di dalam jargon ITS CAK. Nilai tersebut seharusnya tertanam dalam hati sanubari setiap sivitas akademika ITS pada umumnya.Tidak hanya mahasiswa, dosen pun seharusnya meresapi dalam-dalam makna CAK sesungguhnya, sehingga mampu menjadi teladan yang baik untuk mahasiswanya. Beberapa nilai CAK yang saya ambil dari Deskripsi Model Pendidikan Karakter Bangsa di ITS diantaranya adalah :
               Etika dan Intregitas
Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, beragama, maupun dalam menjalankan profesinya, Seorang yang cerdas-amanah-kreatif selalu berpegang teguh pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, negara, dan agama. Marilah berusaha menjaga amanah ini supaya jangan sampai label cak menjadi negatif karena etika dan ulah minoritas.
               Kreativitas dan Inovasi
Mahasiswa yang kreatif tentunya selalu mencari ide-ide segar yang mampu menghasilkan inovasi dalam mengerjakan tugas dan menjalankan perannya dengan baik.
               Ekselensi
Dengan ekselensi, seseorang akan berusaha secara maksimal untuk mencapai hasil yang sempurna. Walaupun kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, namun sebagai makhluk hendaknya selalu berusaha yang terbaik dalam setiap aksinya.
               Kepemimpinan yang kuat
Kepemimpinan yang kuat akan menunjukkan prilaku yang visioner, kreatif, inovatif, pekerja keras, berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, mereka juga harus bertanggungjawab dengan segala tindakannya.
               Sinergi
Mampu bekerjasama untuk dapat memanfaatkan semaksimal mungkin potensi yang dimiliki.
               Kebersamaan dan tanggung jawab sosial
Mampu menjaga kerukunan dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Sebuah tanggung jawab sosial yang cukup berat untuk seorang berlabel CAK. Karena mereka akan dituntut menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya.

Mungkin masih banyak lagi nilai yang terkandung di dalam tiga kata sederhana itu. Dengan jargon CAK, sivitas akademika ITS diharapkan mempunyai karakter yang amanah dalam menjalankan tugasnya, mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sekitar. Dan yang pasti, hendaknya memunyai mindset dan tindakan yang cerdas dan kreatif.

Menurut HDPSDM

Pasal 2
Dengan berpegang kepada nilai-nilai TDPT dan sesuai dengan visi misi KM ITS maka HDPSDM bertujuan:
1.      Membentuk mahasiswa yang berkualitas dalam segi manajerial,  keilmiahan, atau minat bakat
2.      Membentuk mahasiswa yang memiliki kecerdasan IQ, EQ, SQ
3.      Membentuk mahasiswa yang mampu mengaktualisasikan dirinya atau berkontribusi sesuai potensi pada berbagai bidang di masyarakat
Pasal 9Model mahasiswa ideal dapatdigambarkan sebagai berikut :
1.      Iman dan Taqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa. Mahasiswa sebagaimakhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa haruslah senantiasa mensyukuri karunia yang diberikan sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa diharapkan tercipta keseimbangan, keserasian dan keselarasan dalam segenap aktivitasnya dengan adanya sinergisitas rohaniyah dalamdiri masing-masingmahasiswa.
2.      Kapasitas pemikiran intelektual yang memadai Mahasiswa selaku kader penerus bangsa yang dipundaknya terpikul amanah masa depan bangsa haruslah mempunyai pemikiran intelektual dan wawasan yang luas, dengan demikian generasi penerus diharapkan mampu berpikir jauh ke depan dalam rangka memberikan sumbangsih bagi masyarakat.
3.      Kecerdasan emosional Kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai pengaruh dalam berinteraksi dengan publik dan hubungan sosial yang baik. Apabila mahasiswa pandai menyesuaikan diri dengan individu yang lain atau dapat berempati, mahasiswa tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri/ beradaptasi dengan lingkungannya.
4.      Integritas diriSebagai aset bangsa maka mahasiswa haruslah memiliki integritas diri yang utuh. Hanya dengan dilandasi nilai-nilai moral yang senantiasa dipegang teguh maka mahasiswa akan memiliki sebuah integritas pribadi yang utuh ketika harus berperan sebagai apapun di masyarakat. Dengan kondisi seperti itu maka diharapkan mahasiswa akan senantiasa menjadi sosok yang dapat dijadikan panutan dan teladan masyarakat.
5.      Jasmani yang kuatKekuatan jasmani akan sangat menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan amanah yang dibebankan kepada mahasiswa dengan baik, mengingat begitu besar tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa ini. Karena hanya dengan jasmani yang kuat maka pencapaian tugas akan lebih optimal dan maksimal.
6.      Bertanggung jawab dalam bertindakKesungguhan dalam melakukan setiap aktivitas menunjukkan lebih jauh adanya iktikad baik, tekad yang kuat dan bertanggung jawab dalam melaksanakan amanah yang diembankan kepada mahasiswa. Dengan dorongan niat dan keinginan yang kuat maka diharapkan hasil yang dicapai dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat dan bangsa ini.

Wawasan Kaderisasi

Arti Kader Dan Pengkaderan
            Kader berasal dari bahasa Yunani cadre yang berarti bingkai.Bila dimaknai secara lebih luas berarti orang yang mampu menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan suatu organisasi.Kader adalah ujung tombak sekaligus tulang punggung kontinyuitas sebuah organisasi.
            Pengkaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, dan moral sosialnya. Sehingga, kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang dan mewujudkan masa depan yang lebih baik sesuai dengan cita-cita yang diidealkan, nilai-nilai yang diyakini serta misi perjuangan yang diemban.

Esensi Pengkaderan :
1. Akselerasi Perkenalan.
Sebenarnya tanpa pengkaderan pun mahasiswa juga akan saling mengenal. Namun, permasalahannya adalah seberapa lama mereka akan saling kenal secara keseluruhan, dan juga berapa banyak mahasiswa baru yang bersedia untuk berkenalan. Pada kenyataanya, masih lebih banyak mahasiswa baru yang enggan berkenalan dengan seluruh rekan-rekannya di awal kecuali dianjurkan dengan pengawasan atau diarahkan oleh senior-seniornya. Maka adalah tujuan pengkaderan untuk mempercepat proses perkenalan mereka.
        Mempercepat saling kenal satu mahasiswa baru dengan yang lain, dan juga dengan senior, dosen, satpam dan karyawan
        Mengenalkan sejarah kampus, kebesaran-kebesaran yang pernah diraih, dan harapan-harapan jurusan/kampus di masa depan
        Mengenalkan roadmap perjalanan di kampus, secara akademis maupun non-akademis (kemahasiswaan)
        Memperkenalkan himpunan, aktivitas-aktivitas yang dilakukannya, dan manfaat yang akan diterima oleh mahasiswa baru tersebut

2. Membuat Mahasiswa baru jadi Familiar dengan Dunia Perkuliahan.
            Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa baru akan menemukan dunia yang baru; sistem kuliah SKS, praktikum, responsi, asistensi, begadang untuk mengerjakan tugas, dan lain-lain. Apapun yang akan dijalani, mahasiswa baru akan sangat terbantu ketika diberi preview dan juga kiat oleh para senior. Masih banyak mahasiswa baru yang terlalu malu untuk bertanya, atau seringkali mereka bahkan tidak tahu apa yang perlu ditanyakan. Semakin mahasiswa baru mengetahui apa yang akan mereka jalani, semakin besar juga rasa percaya diri serta persiapan diri untuk menghadapinya.
            Untuk itu, diperlukan adanya brainstorm dengan sesama rekan terkait apa saja yang biasa dialami oleh mahasiswa dari jurusan/kampus. Misalnya untuk mahasiswa kedokteran; bahwa pada dua tahun pertama akan banyak menghabiskan waktu di laboratorium dan kelas, mengambil mata kuliah seperti anatomi, biokimia, patologi dst (di-list dan dijelaskan). Pada akhir dari tahun ke-2 mulai dipertemukan dengan pasien dengan bimbingan dari dokter, dst. Intinya adalah timelining, mulai dari semester pertama hingga lulus tahap apa saja yang akan dijalani, apa saja yang perlu dipelajari, semua berdasarkan urutan.

3. Membuat Mahasiswa baru Menjadi Familiar dengan Dunia Kerja Mereka.
Bukan hanya perlu tahu dunia perkuliahan, mahasiswa baru juga perlu dikenalkan secara dini dengan dunia kerja dan apa yang akan terjadi di sana. Sewaktu masih SMA, banyak siswa yang memilih jurusan tertentu dengan pemahaman yang sepotong-sepotong, atau malah bisa jadi sekedar ikut-ikutan teman.Para senior bisa membantu mahasiswa baru mengenal esensi dan tabiat kerja sesungguhnya dari dunia profesi tertentu. Dengan lebih mengenal, diharapkan juga akan muncul penghargaan dan kebanggaan yang sepatutnya pada keprofesian yang akan dijalani.

4. Membuat Mahasiswa baru menjadi Familiar dengan Cara Belajar ala Mahasiswa.
            Karena sudah masuk di jurusan tertentu, maka di sana akan banyak ilmu-ilmu dan wawasan spesifik yang bisa dimengerti dan dihafalkan dengan metode dan trik tertentu. Ini biasanya turun menurun, bisa jadi datang dari dosen atau mahasiswa. Pun juga strategi dalam menghadapi praktikum, penugasan besar pribadi dan kelompok, pasti deh ada contoh sukses atau best practice yg bisa ditiru.

Popular Posts

Recent Post