Showing posts with label Pemimpin Menurut Saya. Show all posts
Showing posts with label Pemimpin Menurut Saya. Show all posts

Monday, March 11, 2013

TM Bukan Segalanya

Assala,i'alaikum. Baru-baru ini ada pengumuman LKMM TM. LKMM yang katanya kalau mau menjadi pemimpin, inilah batu loncatannya. Sudah menjadi hal yang sakral ketika kita punya cita-cita membenahi KM ITS dengan mengikuti LKMM TM. Betapa tidak, cita-cita kita akan menjadi komitmen yang nantinya dipertanggungjawabkan ketika kita diterima dalam pelatihan ini. Banyak cerita postif yang menyertai nama LKMM TM. Dan tidak sedikit cerita miring yang ada didalamnya.
LKMM TM sudah sepatutnya membentuk pribadi yang bisa memimpin dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan terbukti keluaran LKMM TM selalu menjadi pionir didalam organisasinya. Belum lagi kemampuan komunikasi yang ter-upgrade tinggi disertai ilmu strategi dan sedikit politik yang ada. LKMM TM menjelma menjadi jembatan yang sesungguhnya untuk meraih kesuksesan organisasi.
Berita negatif yang mengiringi LKMM TM juga ada. Pelatihan yang memakan dana tinggi itu dikhawatirkan tidak bisa kembali pada masyarakat. Seperti kita ketahui, dana LKMM TM adalah hasil dari pendapatan masyarakat disekitar kita. Ketika dirancangkan suatu pelatihan yang memakan dana besar tetapi tak bermanfaat bagi rakyat, LKMM TM hanya akan menjadi salah satu dari triliunan dana yang terbuang sia-sia. Sedangkan yang kita ketahui LKMM TM hanya menarik komitmen pada kehidupan KM ITS. Sedangkan banyak orang yang berniat masuk LKMM TM hanya untuk diaplikasikan pada KM ITS. Pernahkah berfikir bagaimana pengaplikasian LKMM TM yang benar-benar berguna bagi masyarakat?
Dan LKMM TM bukanlah satu-satunya jalan menuju kepemimpinan organisasi di KM ITS. LKMM TM bukanlah hal yang bisa menentukan apakah kita layak menjadi pemimpin atau tidak. Dan LKMM TM bukanlah akhir dari karir kita ketika kita bercita-cita menjadi pemimpin organisasi mahasiswa di ITS. Lanjutkan buat yang telah diterima. Dan yang belum diterima, masih ada jalan lain yang bisa kalian lewati menuju kontribusi KM ITS yang lebih baik. Wassalamu'alaikum

Tuesday, October 30, 2012

Antara Visi Misi dan Keseharian

Visi misi sudah jadi senjata paling ampuh dalam dunia perpolitikan. Kita bicara politik supaya pandangan tentang politik tidak selalu buruk. BahkanRasul pun pernah berpolitik. Antara visi dan keseharian. Ya, banyak orang yang memilih pemimpin hanya dari visi misi yang ia janjikan. Begitu besar harapa pada visi misi hingga ketika itu benar-benar dipercaya, sang pencipta visi misi itupun ingkar.
Visi misi tak lebih dari sebuah rangkaian kata-kata janji dan iming-iming yang pastinya secara garis besar mengatasnamakan perubahan dan pergerakan menuju dinamisasi yang lebih baik. Ah, bagiku itu tak lebih dari omong kosong. Bukan hendak merendahkan orang-orang yang telah susah payah merangkai katatersebut. Tetapi hanya menyadarkan bahwa visi misi itu hanya janji. Pada hakekatnya itu bisa diingkari dan masih bisa tepati. Tergantung pada keseharian sang pencipta visi misi itu.
Berbicara masalah keseharian, ini sempat aku bedakan dengan kepribadian. Karena bagiku kepribadian masih bisa berbohong. Kepribadian belum memandang seseorang secara detail. Tak sedetail keseharian. Hanya membuka kembali pemikiran teman-teman bahwa pemimpin yang layak anda pilih adalah pemimpin yang kesehariannya jelas dan memang pantas jadi panutan. Buat apa kita memilih pemimpin yang suka mbacem, tukang TA dan tukang melanggar peraturan-peraturan kecil. Terbiasa mengabaikan hal kecil bisa berdampak pada pengabaian hal-hal besar.
Inti dari tulisan diatas. Memilih pemimpin dari segi visi misi itu masih terlalu sempit. Masih ada kepribadian yang harus ditinjau. Kepribadian masih bisa berbohong, maka lihatlah kesehariannya. Bila masih belum tahu kesehariannya, tanyakan! Bukan pada teman dekat atau sanak sodaranya. Tetapi pada khalayak umum yang akan memberi pendapat tanpa memihak. Khalayak umum akan berkata jurur tentang baik buruknya tanpa rasa sungkan. tetapi, tetap jangan terpaku pada satu pendapat. Masih ada pendapat lain yang musti kita saring.

Monday, October 29, 2012

Bedanya Pemimpin di Sekolah dan Kuliah

Aku pernah berkenalan dengan seorang ketua OSIS bernama Thiyo Ridwan(semoga ejaan namanya tak salah). Dia sekarang kuliah di universitas yang katanya paling bagus(UI-red), walaupun menurutku ITS masih paling bagus dari segi apapun(cuma dari segi popularitas rakyat bonafit dan pedalaman saja yang kurang bagus). Saat dia memimpin, dia terkenal sebagai ketua OSIS yang keren, beken, dan tidak ketinggalan jaman(saat itu). Dan mindsetku saat itu, ketua OSIS itu gaul, punya pacar, dan sering kumpul sama orang-orang sangar. Buktinya, si Thiyo sendiri yang saat itu deket sama banyak cewek, jadi vokalis, dan gaulnya saama orang-orang sangar. Maka tak jarang beberapa orang kurang suka terhadap manusia-manusia yang berkecimung di dunia kepengurusan OSIS. Banyak tean-temanku yang sekolah di sekolahan negri yang seperti itu. Bahkan teman-teman dekatku.
Mindset itu yang ku bawa hingga awal perkuliahan. Saat itu hasrat untuk menjadi pemimpin masih besar-besarnya. Karena pemimpin itu identik dengan kegaulan dan kesangaran dalam keseharian. Perasaan ingin beken itu terus muncul ketika semakin banyak teman yang ku kenal. Ya, mindset salah itu terus menghantui dan menjerumuskanku pada kawah candradimuka.
Bicara masalah kawah candraddimuka bertittle blackhole. Itu adalah sebuah proses yang tak semua bisa mengalaminya. Berawal di suatu malam ketika aku dan 4 orang teman lainnya dipanggil. Bersama Jordan, Wildhan, Dharma, Safak. Dan seharusnya komting Restu saat itu hadir(lagi sakit gejala tipus). Semenjak itu aku dan teman-temanku menjadi penggerak angkatan. Malam hari kami ada jadwal tersendiri, beda dengan teman-teman. Kami harus berendam di kawah candradimuka versi blackhole(pertanggung jawaban tugas).
Lama kelamaan mundset bahwa pemimpin itu gaul, keren, dan lain sebagainya hilang. Selain semenjak panggilan malam dan punya tanggung jawab untuk angkatan, para pemimpin yang ada di ITS ini juga menjadi pengamatanku. Sebenarnya apa itu pemimpindan harus bagaimana pemimpin itu. Misal mas Dalu yang kala itu jadi Pres BEM ITS. Dia sering terlihat di masjid untuk shalat jama'ah. Apa mas Dalu punya pacar? Aku rasa tidak. Dengan keseharian yang semacam itu, susah untuk mensuudzoni dia sebagai orang yang berpacaran. Selain itu pandangan mahasiswa lain tentang mas Dalu memang keren, tapi bukan keren seperti ketua OSIS yang gaul. Keren yang tercipta akibat ketaatan kepada yang Mahakuasa dan berkontribusi untuk perubahan kearah yang lebih baik. Ternyata pemimpin adalah yang seperti itu, dengan keseharian yang baik dan bisa menjadi panutan. Tak hanya bisa memimpin semata.

Saturday, October 27, 2012

Sanguinis, Bukan Korelis

Dari awal aku selalu berfikir bahwa hidup ini seperti sebuah mimpi. Dan mimpi bagku tak lebih dari sebuah sekenario. Sekenerio itu kita yang buat dan kita sendiri yang menjadi tokoh utamanya. Tak jarang ku selalu membayangkan sebuah kisah dimana aku adalah yang akhirnya menjadi pemimpin dan membawa perubahan. 
Berawal dari pertama kali aku berkumpul dengan teman-teman fisika its 2011 di BAAK ITS. Saat itu kita membahas jarkom dan siapakah pemimpin sementara untuk fisika is 2011. Karena saat itu restu yang memimpin, maka dailah yang untuk sementara menjadi pemimpin. Walaupun pada akhirnya kepemimpinan berlanjut hingga awal masa pengaderan. Jujur saat itu aku pribadi berkeinginan menjadi pemimpin angkatan. Walaupun semua orang berkata bahwa itu berat. Tapi hasrat itu masih terus ada. Hingga akhirnya ku sadar bahwa masih banyak yang pantas dan mampu selain aku.
Aku memang terlihat diangkatan dengan segala tingkahku. Mulai dari memberi masukan-masukan untuk angkatan hingga memimpin forum diskusi. Tapi apakah pemimpin itu hanya sebatas memberi usulan  dan memimpin forum? Tidak kawan, itu amat  sempit. Dan pemimpin juga bukan orang sombong yang merasa bisa dan mengajukan diri.
Tingkahku bukanlah orang yang korelis, yang biasanya bisa memimpin walaupun tak sejenius sanguinis daam memikat perhatian. Aku hanyalah sanguinis yang lebih pantas berada dibelakang layar saat itu. Banyak yang bilang orang yang dibelakang layar itu hanya orang bermental tempe yang mau memakai idenya tanpa mendapat resiko dan konsekwensi. Dan ku katakan bahwa itu benar. Aku hanyalah penakut yang punya solusi tanpa mau menerima resiko dari solusi tadi. Dan aku belum pantas menjadi pemimpin karena ak adalah seorang sanguinis, bukan korelis. Orang yang hanya bisa mencari perhatian. Hidup semata-mata demi perhatian dan ditakutkan kelak akan memimpin karena hanya untuk mencari perhatian.

Salah Tafsir Arti Pemimpin

Bissmillah
Assalamu'alaikum
Beberapa kali ku berharap bisa menjadi pemimpin. Dan aku berpendapat bahwa kepemimpinan itu harus di minta atau didapat dengan cara menjual kata-kata janji. Ya, itu awal aku mengetahui kepemimpinan. Tepatnya saat ku masih menjadi seorang santri semi siswa di sebuah pondok pesantren yang sudah bisa dibilang bukan pondok pesantren. Keorganisasian memang tak sepopuler di sekolah-sekolah lain. Dan aku amat ingat ketika ku sangat mengharap menjadi seorang ketua koperasi. Bahkan saat itu ku sempat berkonsultasi kepada calon ketua terpilih supaya mendapat tempat pada kabinet kepemimpinannya. Hal itu masih ku anggap lumrah asal tanpa uang.
Dan pada akhirnya ketua terpilih itu benar-benar memasrahkan jabatan ketua koperasi kepadaku. Bangga, senang dan sedikit agak sombong keluar saat itu. Menyandang nama ketua adalah sebuah tittle kebanggaan tersendiri dalam dunia ini. Dan jujur pada saat itu aku masih lebih memikirkan poularitas ketimbang kontribusi. Bahkan tak ada kontribusi saat aku menyandang sebagai ketua koperasi saat itu.
Terakhir aku menjadi ketua koperasi paling gagal. Memang keuntunganku termasuk jajaran ketua koperasi yang terbanyak mendapat untung. Tetapi yang salah saat itu seluruh ilmu antisipasi tentang kegagalan masa lalu tak pernah teraplikasikan karena keterlenaan terhdap jabatan dan kesombongan karena merasa paling benar.
pelajaran yang ku ambil saat itu:
  1. Menjadi pemimpin itu tidaklah mudah kawan. Butuh jiwa yang menurutku tak cukup dibangun bebeapa bulan saja. Prosesnya hampir seperti membuat intan. di tempa dengan tekanan dan suhu tinggi. Baru keluarlah sifat kepemimpinan yang berkualitas.
  2. Kenikmatan menyandang ketua itu tak sebanding dengan resiko dan pertanggung jawaban yang ada. Kita bisa bangga ketika menjadi pemimpin. Tetapi untuk mendapat tingkatan kebanggaan sesungguhnya, kita butuh pembuktian dengan cara membawa apa yang kita pimpin menjadi sesuatu yang sukses.
  3. Pelajaran terakhir. Jangan jadi pemimpin ketika hanya ingin mendapat polularitas atau sanjungan. 

Popular Posts

Recent Post